Haruskah Indonesia LockDown?

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Haruskah Indonesia LockDown?

@FauziTMG
Belakangan jagat dunia maya diramaikan hashtag #LockDownIndonesia. Mungkin mereka tidak paham konsekuensi lockdown saking parnonya. Please, kalau masih waras jangan dukung lockdown. Indonesia bukan China yang bisa sukses menerapkan lockdown, karena:

Our law & political system can't afford lockdown, Our economy can't afford lockdown, and Our society can't afford lockdown.


Lockdown setidaknya akan memengaruhi 3 aspek berikut:

1. Sistem politik & hukum
Apa kesamaan kesuksesan China, Vietnam & Korea Utara menerapkan lockdown? Sistem politik & hukum yang terkomando dari pusat ke daerah. Sementara Indonesia punya sistem demokrasi terbuka.

Lihat saja disekitar kita, ada Gubernur rasa Presiden. Ada pasien positif Corona yang "kabur". Ada Camat yang marah-marah ke relawan banjir. Ada gugatan class action ke pemda karena kerugian akibat banjir. Kenaikan iuran BPJS yang sudah keharusan & logis bisa dibatalkan MA.

Memangnya ketika di-lockdown, warga +62 bisa disiplin? Apa aparatnya bisa tegas ketika ditodong balik dengan HAM? Tidak akan ada tumpang tindih peran & kewenangan pemda & pempus? Apa setelah di-lockdown tidak akan ada gugatan kerugian karena lockdown? Jangan-jangan ada juga yang mengajukan JR lockdown ke MA / MK.

Di Korea Utara atau China sih rakyat "ndableg" bisa disadarkan dengan AK47. Di Indonesia?

2. Ekonomi.
Lockdown belum pasti mencegah penyebaran COVID-19, tapi pasti membawa konsekuensi ekonomi yang serius & luas.

Salah satu konsekuensi yang pasti terjadi adalah inflasi & kelangkaan supply terutama karena panic buying. Jangan lupa sekitar 1 bulan lagi kita akan menyambut bulan Ramadhan dimana harga2 dipastikan akan naik seiring permintaan yang juga naik. Sementarasupply & distribusi global juga sedangterganggu isu Corona. Semuanya jika terjadi bersamaan bisa memicu stagflasi & resesi nasional bahkan Global Depression.

Jangan latah mengikuti orang2 macam Tompi & beberapa oknum DPR yang mendukung lockdown karena mereka egois & paranoid. Mereka tahu betul mereka bisa survive selama lockdown. "Gue tajir ini, bisa nyetok sembako 2 minggu atau sekalian liburan ke daerah yang belum ada suspect corona", itu yang mungkin mereka pikirkan. Lah kita2 budak2 korporat & yang berpenghasilan tidak tetap gimana nasibnya?

3. Masyarakat.
Masyarakat kita sudah puluhan tahun dimanjakan subsidi sehingga harga barang relatif terjangkau dan bahan-bahan pokok tersedia hampir sepanjang waktu. Kita juga sudah didoktrin tinggal di tanah surga gemah ripah loh jinawi, tapi lalai diingatkan bahwa ada potensi bencana & krisis dibaliknya dan lalai dilatih untuk menghadapinya.

Apa yang terjadi ketika barang tiba2 langka & mahal? Jawabannya: kerusuhan 1998.

Tapi kan 1998 adalah krisis multidimensional, banyak faktor yang mempengaruhi kerusuhan?

Ok, saya carikan contoh yang paling dekat, ada 1 kota di Indonesia Timur yang mengalami lockdown alami ketika mengalami bencana 2018 lalu. Bisa tebak? Kota Palu.

Kota Palu praktis terisolasi karena gempa & likuifaksi memutus semua aksesibilitas dari & ke Palu. Logistik terbatas sementara kebutuhan dasar mesti dipenuhi. Karena kebutuhan & kepanikan bercampur dengan aksi massa, terjadilah "pengambilan" massal sembako di toko, gudang bahkan mal. Lamanya bantuan datang memperparah situasi menjadi penjarahan, tidak hanya sembako tapi juga pencurian TV, kulkas bahkan ban & onderdil mobil.

Pasti ibu2 tahu jika sekarang saja gula dan beberapa sembako mulai langka & mahal. Bisa dibayangkan jika lockdown diterapkan menjelang Ramadhan, apa yang akan terjadi?

Kota-kota yang tidak mengalami lockdown pun akan terkena sindrom panic buying karena khawatir akan jadi kota berikutnya di lockdown.

Belum lagi di sosial media beredar framing bahwa etnis tertentu memborong sembako "segunung" di mall.

"It will be another 1998 riots if lockdown happens"

Jaminan logistik & keamanan tidak akan cukup menetralisir efek domino lockdown.

Yang bisa kita lakukan ya menerapkan sanitasi diri & lingkungan, tingkatkan imunitas tubuh dan proaktif melapor jika mengalami atau melihat gejala COVID-19. Jangan lupa berdoa untuk keselamatan diri, keluarga, bangsa & dunia.

Bagi pemerintah sebaiknya meniru cara Korsel menagani COVID-19 tanpa lockdown.

Penulis: Thomas Hanzee